wisuda program pasca 2012

wisuda program pasca 2012
foto bersama

Rabu, 05 Desember 2012

Pendidikan Islam Menurut Al-Ghazali


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM;
(Dalam Perspektif Pemikiran Al-Ghazali)
Oleh: Asis, S.H.I, M.Pd.I


Abstraks

Al-Ghazali tergolong tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan, karna pendidikan menurut beliau merupakan sarana untuk menyebarkan keuatamaan, membersihkan jiwa dan sebagai media untuk mendekatkan diri  kepada Allah. Beberapa karyanya yang memiliki sumbangan besar terhadap pendidkan diantaranya adalah kitab Ihya’ al Ulummuddin. Dalam kitab ini tercermin berbagai pendapatnya yang terpenting dalam pendidikan dan pengajaran.
Dari buah pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan terususun secara sistematis sebagiamana konsep pendidikannya yang pertama adalah tujuan-tujuan  pendidikan  kemudian untuk mencapai tujuan disusunlah kurikulum pendidikan yang menyajikan macam-macam ilmu, selanjutnya metode pendidikan juga merupakan hal paling urgen untuk menyampaikan ilmu terhadap anak didik. Di bagian akhir   menyajikan kreteria atau sifat-sifat guru dan murid yang juga menjadi perhatian serius dari al-Ghazali, karna keduanya saling  berinteraksi dalam proses pembelajaran  maka masing-masing harus menunjukkan sikap sesuai dengan kapasitasnya. Guru sebagai pendidik dan murid sebagai terdidik

Kata kunci: Al-Ghazali, konsep, tujuan, kurikulum, metode, sifat-sifat guru dan murid.

A. PENDAHULUAN
Biografi singkat al-Ghazali

Diantara sekian tokoh islam terkemuka yang memiliki pemikiran filosuf  sufistik adalah Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, beliau  di lahirkan di sebuah desa yang benama Taberan,  tepatnya dikota Thusia profinsi khurasan, Iran sebelah utara pada tahun 450H /1058M.  Namanya lebih di kenal dengan sebutan Al-Ghazali . ia mempunyai keahlian berbagai ilmu baik sebagai filosuf sufi, maupun pendidik , untuk menghidupkan kembali ilmu ilmu agama ia menyusun beberapa kitab yang terkenal sampai sekarang salah satunya adalah kitab IhyaUlum al-din .
Al-Ghazali ketika  masih remaja saat itu masih berusia 15 tahun sudah belajar  kepada Syeh Ahmad bin Muhammad Al-Radzakani dikampung halamannya sendiri. Beliau kemudian pergi ke Jurjan untuk berguru kepada Syeh Abu Naser Al-Ismaily. Setelah bertahun-tahun berguru pada Syeh Abu Naser dan banyak pula ilmu-ilmu yang didapatkannya kemudian kembali lagi ke daerahnya di Thusia.  Kemudian selama kurang lebih dari tiga tahun berusaha untuk menyibukkan diri menghafal semua catatan yang diperoleh dari Syeh abu Naser, hinggal hafal semuanya.
Sesudah itu, pada usia 19-20 tahun Al-Ghazali pergi lagi ke Naisabur untuk berguru kepada Imam Al-Haromain Al-juwaini. Beliau sangat tekun dan giat belajar kepadanya, sehingga beliau mahir dalam bidang Al-Qur’an, Hadith, ilmu mantic dan retorika. Selain itu beliau juga mendalami ilmu teologi, hukum dan filsafat, hingga beliau faham betul uraian-uraian pakar ilmu tersebut. Beliau memang cerdas dan cepat menangkap pesan ilmu pengetahuan. Menurut Ibnu Khallikan yang di kutip Subawaihi mengatakan bahwa atas bimbingan gurunya, beliau(Imam Ghazali) sungguh-sungguh belajar dan berijtihad sampai benar-benar menguasai berbagai persoalan mazhab-mazhab, perbedaan pendapatnya, perbantahannya teologinya, ushul fighnya, logikanya, dan membaca filsafat maupun hal-hal lain yang berkaitan dengannya, serta menguasai berbagai pendapat tentang cabang ilmu tersebut. Al-Ghazali juga mampu menjawab tantangan dan mematahkan pendapat lawan-lawannya mengenai semua ilmu tersebut, serta mampu menulis karya-karya yang paling baik dalam semua bidang itu, yang semuanya diwujudkan dalam waktu yang relatif singkat.  Karna kepandaiannya dalam berbagai bidang ilmu itulah, gurunya Imam al-Haromain menggelarinya Bahrun Mughriq artinya lautan luas yang tak bertepi.
Al-Ghazali tergolong ulama yang taat berpegang teguh pada al-Qur’an, al-Sunnah, taat menjalankan perintah agama dan selalu menghiasi dirinya dengan tasawwuf. Karnanya diantara disiplin ilmu yang digelutinya pada akhirnya lebih tertarik pada fiqih dan tasawwuf.
Sekembalinya imam Ghazali ke Baghdad sekitar sepuluh tahun, beliau pindah ke Naisabur dan sibuk mengajar disana dalam waktu yang tidak lama, setelah itu Al-Ghazali wafat di kota kelahirannya Taberan pada tanggal 14 Jumadil Akhir pada tahun 505 H, bertepatan pada tanggal 19 desember (1111 M).  Ibnu Jauzi meriwayatkan sebagaimana dikutip Faz-ul-Karim menjelaskan tentang detik-detik meninggalnya Al-Ghazali. Ibnu Jauzi berkata; Bahwa pada hari senin pagi sekali beliau bangun dari tempat tidurnya, melaksanakan shalat shubuh dan kemudian meminta laki-laki untuk membawa kain kafannya. Ketika selesai dibawa, beliau memejamkan mata dan berkata;”Perintah Allah itu untuk di patuhi”. Seraya berkata seperti ini, beliau memanjangkan kakinya dan menghembuskan nafas terakhirnya dengan seketika. (Ibnu Jauzi narratet a story about his death. He said; On Monday early in the morning he got up from his bed, performed his morning prayer and then sent a man to bring his coffin cloth. When it was brought, he lifted it up to his eyes and said; Lord’s command is to be obeyed. Saying this, he prolonged his legs and immediately breathed his last).
Diantara  kitab–kitab  yang beliau tulis tersebut beliau  berupaya untuk membersihkan hati umat islam dari kesesatan, sekaligus pembelaan terhadap serangan dari luar baik islam maupun Barat. Di dalam konsep  pendidikan  Al-ghazali tidak hanya memperlihatkan aspek akhlak semata akan tetapi juga memperhatikan aspek aspek lain , di antaranya aspek keimanan, akliah ,social jasmani.  Pembahasan tersebut akan diuraikan dengan urusan aspek-aspek pendidikan sebagai berikut

B. KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT  AL-GHAZALI

Pendidikan sebagai suatu proses interaksi social yang melibatkan pengaruh pendidik terhadap  anak didik sebagai(proses belajar-mengajar) dalam rangka perubahan prilaku yang diinginkan , sesungguhnya dapat dianggap sebagai inti dari misi dakwah Islamiyah itu sendiri. Islam datang dalam kehidupan manusia di dunia sebagai ajaran tentang hakekat, asal, tujuan, jalan, cara, dan pedoman-pedoman lain mengenai kehidupan dan keberadaan segala sesuatu. Dalam kerangka dakwah Islamiyah perlu diketahui tujuannya yaitu secara mikro adalah mengantarkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya, yakni memperoleh ridha Allah dalam kehidupan dunia dan akhirat. Dengan demikian orentasi kepada pencapaian ridha Allah inilah yang semestinya menjadi arah tujuan dari sistem pendidikan yang dikembangkan.
Dalam hal ini Al-Ghazali memiliki konsep tersendiri dalam pendidikan islam. Dan satu hal yang paling berharga dari al-Ghazali adalah bahwa setiap karya-karya dan buah pemikirannya selalu mengedepankan nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Nilai-nilai moral itulah yang harus kita ambil hikmah dari konsep pemikiran al-Ghazali. Untuk mengetahui konsep tersebut dapat diketahui antara lain dengan cara mengetahui dan memahami pemikirannya yang berkenaan dengan berbagai aspek yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu aspek tujuan pendidikan, kurikulum, metode, kreteria guru dan etika/sifat murid sebagaimana akan di urai secara singkat berikut ini.

1. Tujuan Pendidikan
Pada hakikatnya tujuan pendidikan merupakan rumusan filsafat atau pemikiran yang mendalam tentang pendidikan, sebab tanpa tujuan yang jelas maka semua yang menjadi konsep akan sia-sia tidak tentu arahnya. Seseorang baru dapat merumuskan suatu tujuan kegiatan, apabila sudah memahami secara benar filsafat yang mendasarinya. Rumusan tujuan ini selanjutnya akan menentukan aspek kurikulum,  metode, guru dan yang lainnya yang berkaitan dengan pendidikan. Al-Ghazali dalam hal ini  merumuskan tujuan pendidikan diarahkan pada tujuan akhir yang ingin dicapai melalui pendidikan setidaknya ada dua tujuan;
Pertama, tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada  pendekatan diri kepada Allah.
Kedua     kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Rumusan tujuan pendidikan yang menjadi konsep Al-Ghazali sangat simple namun memiliki makna yang sangat luas, hal ini sejalan dengan filsafatnya yang becorak tasawwuf. Maka sasaran pendidikan, menurut Al-Ghazali adalah kesempurnaan insani di dunia dan akhirat. Rumusan tujuan pendidikan sesuai dengan firmaNya;
      
Artinya:  Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(Q.S. al-Dzariyat:56)
 Dan manusia akan sampai pada tingkat kesempurnaan itu hanya dengan menguasai sifat keutamaan melalui jalur ilmu. Keutamaan itulah yang akan membuat ia bahagia di dunia dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sehingga ia menjadi bahagia di akhirat kelak.



2. Kurikulum Pendidikan
Setelah merumuskan tujuan pendidikan selanjutnya Al-Ghazali membuat konsep kurikulum yang terkait erat dengan ilmu pengetahuan. Kurikulum pendidikan juga sangat menentukan dalam melaksanakan pelaksanaan pembelajaran. Karna kurikulum merupakan  instrumen yang berisi tentang seperangkat komponen  untuk melaksanakan  semua rancangan kurikulum yang telah disusun secara sitematis oleh penyusun kurikulum.
Abudin Nata memahami kurikulum dalam pandangan al-Ghazali dapat difahami  dari konsepnya mengenai ilmu pengetahuan. Beliau membagi ilmu pengetahuan kepada yang terlarang dan yang wajib dipelajari oleh anak didik terbagi dalam tiga bagian yaitu;
Pertama, kurikulum yang terdiri dari ilmu-ilmu yang tercela baik sedikit maupun banyak, yaitu ilmu-ilmu yang tidak ada manfaatnya, baik didunia maupun diakhirat, seperti ilmu sihir, ilmu nujum dan ilmu ramalan. Dalam hal ini Al-Ghazali menilai bahwa ilmu tersebut tercela karna ilmu-ilmu tersebut terkadang menimbulkan mudharat baik bagi yang memilikinya, maupun bagi orang lain.
Kedua,  Kurikulum yang terdiri dari ilmu-ilmu yang terpuji baik sedikit maupun banyak, yaitu ilmu yang erat kaitannya dengan peribadatan dan macam-macamnya, seperti ilmu yang berkaitan dengan kebersihan diri dari cacat dan dosa serta ilmu yang dapat menjadi bekal bagi seseorang untuk mengetahui yang baik dan melaksanakannya, ilmu-ilmu yang mengajarkan manusia tentang cara-cara mendekatkan diri kepada Allah dan melakukan sesuatu yang diridhai-Nya, serta dapat membekalinya di akhirat.
Ketiga,  Kurikulum yang terdiri dari ilmu-ilmu yang terpuji dalam kadar tertentu, atau sedikit, dan tercela jika dipelajarinya secara mendalam, karna dengan mempelajarinya secara mendalam itu dapat menyebabkan terjadinya kekacauan dan kesemrautan antara keyakinan dan keraguan, serta dapat pula membawa kekafiran, seperti ilmu filsafat.
Dari tiga macam ilmu diatas menurut al-Ghazali merupakan bagian ilmu yang dijadikan objek, karna itu menurut al-Ghazali ilmu itu bisa dilihat dari dua segi, yaitu ilmu sebagai proses dan ilmu sebagai objek. Sebagai proses al-Ghazali membagi ilmu menjadi tiga; ilmu hissiyah yaitu ilmu yang diperoleh melalui pengindraan(alat indra), ilmu akliyah yaitu ilmu yang diperoleh melalui kegiatan berfikir(akal), sedangkan yang terakhir adalah ilmu ladunniyah yaitu ilmu yang diperoleh langsung dari Allah, tanpa melalui pengindraan dan pemikiran, melalui hati dalam bentuk ilham.
Menyimak dari pemikiran al-Ghazali di atas sangat terlihat sekali bahwa ilmu sebagai subjek tidak bebas nilai. Setiap ilmu pengetahuan yang dipelajari harus dikaitkan dengan nilai moral dan nilai manfaatnya.


3. Metodologi Pendidikan

Metode merupakan langkah, cara, dan tehnik untuk memberikan pemahaman dan pengertian, sehingga dengan mudah dapat diserap oleh peserta didik. Metode tersebut harus bahkan wajib dikuasai oleh segenap pendidik, sebab seoarang pendidik dihadapkan pada krakteristik dan tipologi peserta didik yang berbeda-beda.   Dalam hal yang berhubungan dengan metode pendidikan , perhatian al-Ghazali menekankan pada pentingnya  pendidikan agama dan moral dengan tipe bimbingan dan pembiasaan(drill) kemudian nasehat dan anjuran sebagai alat pendidikan dalam rangka membina kepribadian anak sesuai dengan ajaran agama islam. Pembentukan kepribadian itu berlangsung secara berangsur-angsur dan berkembang sehingga merupakan proses menuju kesempurnaan. Dalam hal ini, al-Ghazali mengatakan sebagaimana dikutip oleh Jamaluddin al-Qasimi bahwa;
“Apabila anak dibiasakan untuk mengamalkan segala sesuatu yang baik, diberi pendidikan kearah itu, pastilah ia akan tumbuh diatas kebaikan dan akibat fositifnya ia akan selamat sentosa didunia dan akhirat. Kedua orang tuanya dan semua pendidik, pengajar serta serta pengasuhnya ikut serta memperoleh pahalanya. Sebaliknya, jika sejak kecil sudah dibiasakan mengerjakan keburukan dan dibiarkan begitu saja tanpa dihiraukan pendidikan  pengajarannya sebagaimana halnya seorang yang memelihara binatang, maka akibatnya anak itu pun akan celaka dan rusak binasa akhlakny, sedangkan dosanya yang utama tentulah dipikulkan oleh (orang tua atau pendidik)yang bertanggung jawab untukmemelihara dan mengasuhnya.”

Dalam metode tersebut al-Ghazali menekankan agar tujuan utama  dari penggunaan metode tersebut diselaraskan dengan tingkat usia, tingkat kecerdasan, bakat dan pembawaan anak dan tujuannya tidak dilepaskan dari hubungannya dengan nilai dan manfaat. Oleh karna itu dalam metode pendidikannya ini al-Ghazali cendrung mendasarkan pemikiranya pada prinsip ajaran Sufi(penyucian jiwa) dan prakmatis(nilai guna). Ia menempatkan pendidik sebagai tokoh teladan bagi para murid.  Tentang pentingnya keteladanan utama dari seorang guru, juga dikaitkan dengan pandangannya tentang profesi mengajar. Menurutnya mengajar adalah pekerjaan yang paling mulia sekaligus yang paling agung .pendapatnya ini, ia kuatkan dengan beberapa ayat Al-quran dan hadits Nabi yang mengatakan status guru sejajar dengan tugas kenabian. Sebagaimana Sabdanya;
أقرب الناس من درجة النبوة أهل العلم والجهاد, أما أهل العلم فدلواالناس على ما جائت به الرسول وأما أهل الجهاد فجاهدوا بأسيافهم على ما جائت به الرسول .
Lebih lanjut Al-Ghazali mengatakan bahwa wujud termulia di muka bumi adalah manusia, dan bagian inti manusia yang termulia adalah hatinya. Guru bertugas menyempurnakan, menghias, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bahkan, kaum muslimin pada zaman dahulu amat mementingkan menuntut ilmu yang langsung diterima dari mulut seorang guru. Mereka tidak suka menuntut ilmu dati buku-buku dan kitab-kitab saja, sebagian mereka berkata “ Diantara malapetaka yang besar yaitu berguru pada buku, maksudnya belajar dengan membaca buku tanpa guru”, dalam sebuah kitab dikatakan “Barang siapa yang tiada berguru, maka syetanlah imammya”. Dalam hal ini, Al-Ghazali lebih mementingkan semua aspek pendidikan sebagaimana dikutip oleh Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan yakni aspek keimanan, aspek akhlak, aspek akliyah, aspek social dan aspek jasmaniyah.   Dalam masalah pendidikan menurut Abuddin Nata, al-Ghazali sangat menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Karna anak adalah amanat yang dipercayakan kepada orang tuanya, hatinya bersih, murni, laksana permata yang berharga, sederhana, dan bersih dari gambaran apapun. Ia dapat menerima tiap ukiran yang digoreskan kepadanya dan akan cenderung ke arah yang kita kehendaki. Oleh karna itu, bila ia dibiasakan dengan sifat-sifat yang baik, maka akan berkembanglah sifat-sifat yang baik pula. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW :
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
Artinya : Setiap anak dilahirkan dalam keadaan bersih, kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi penganut Yahudi, Nasrani, dan Majusi.”( HR. Muslim)


4. Kreteria Guru
Kreteria guru yang baik adalah guru atau pendidik  yang apabila diserahi tugas mengajar mampu melaksanakan dengan baik,  cerdas dan sempurna akalnya, disamping itu juga guru harus memiliki budi pekerti yang baik. Budi pekerti yang baik tentu saja menjadi panutan bagi para murid yang belajar menuntut ilmu. Disamping kreteria-kreteria yang bersifat umum, seorang guru juga harus memiliki sifat-siofat khusus atau tugas-tugas tertentu sebagai berikut:
1. Guru hendaknya memiliki sifat kasih sayang terhadap  murid dan menganggapnya sebagai anak sendiri. Sebagaimana sabda Nabi, “Sesungguhnya aku bagi kamu adalah seperti ayah terhadap anaknya.” Sifat ini dinilai penting karna akan dapat menimbulkan rasa percaya diri dan rasa tentram pada diri murid terhadap gurunya. Hal ini pada akhirnya dapat menciptakan kondisi belajar yang mendorong murid untuk menguasai ilmu yang diajarkan oleh seorang guru.
2. Guru hendaknya meniru Rasulullah SAW. Yang mengajar ilmu hanya semata-mata karna Allah SWT. Sebagimana Sabdanya,” Janganlah kamu meminta upah atas pengajaran.” Allah ta’ala juga menegaskan dalam firman-Nya;
         • 
“Kami tidak menghendaki balasan dari kamu maupun terimah kasih.”(QS.al-Insan:9).
Walaupun ia mempunyai jasa atas mereka, merekapun mempunyai jasa atasnya, karna mereka menyebabkan pendekatan dirinya kepada Allah Ta’ala dengan menanamkan ilmu dan iman dalam hati mereka.
3. Guru hendaknya berfungsi juga sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur dan benar dihadapan murid-muridnya. Ia tidak boleh membiarkan muridnya mempelajri pelajaran yang lebih tinggi sebelum ia menguasai pelajaran yang sebelumnya. Dalam pendapatnya al-Ghazali “jangan belajar ilmu yang tersembunyi sebelum menyempurnakan ilmu yang terang.” Dengan kata lain bahwa seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran di disarankan jangan menyampaikan materi-materi yang sulit dijangkau oleh murid sebelum menguasai materi yang mudah. Disinilah pentingnya seorang guru mempelajari kejiwaan murid, agar mengetahui bagaimana cara mempergaulinya, sehingga murid terhindar dari kebimbangan dan kebingungan.
4. Guru hendaknya dalam melaksanakan kegiatan mengajar menggunakan cara-cara  yang simpatik, halus dan tidak menggunakan kekerasan, cacian, makian dan sejenisnya. Karna tugas mulia guru ini diemban selama 24 jam dimana dan kapan saja ia akan selalu dipandang sebagai guru yang harus memperlihatkan kelakuan yang dapat ditiru oleh masyarakat, khususnya oleh anak didik.
5. Guru  hendaknya menunjukkan sikap teladan atau panutan yang baik dihadapan murid-muridnya. Dalam hubungan ini seorang guru harus bersikap toleran dan mau menghargai keahlian orang lain. Seoarang guru hendaknya tidak mencela ilmu-ilmu yang bukan keahlian atau spesialisasinya. Kebiasaan seorang gueru yang mencela guru ilmu fiqh, dan guru ilmu figh mencela guru hadith dan tafsir, adalah guru yang tidak baik.
6. Guru hendaknya memiliki prinsip mengakui adanya perbedan potensi yang dimiliki murid secaraindividual, dan memperlakukannya sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki muridnya. Dalam hal ini al-Ghazali menasehatkan agar guru membatasi diri dalam mengajar sesuai dengan batas kemampuan dan pemahaman muridnya, dan ia sepantasnya tidak memberikan pelajaran yang tidak dapat dijangkau oleh akal muridnya, karna hal itu dapat menimbulkan rasa antipati atau merusak akal muridnya.
7. Guru hendaknya memahami perbedaan tingkat kemampuan dan kecerdasan muridnya, dalam hal ini menurut al-Ghazali seorang guru harus memahami bakat, tabiat, dan kejiawaan muridnya sesuai dengan tingkat perbedaan usianya. Kepada murid yang memiliki tingkat kemampuan yang rendah maka seorang guru tidak boleh mengajarka pelajaran yang sulit sekalipun sang guru menguasainya. Jika hal ini terjadi maka dapat menimbulkan rasa kurang simpatik terhadap guru.
8. Guru hendaknya berpegang teguh pada prinsip yang diucapkan, serta berupaya untuk merealisasikan. Dalam hal ini al-Ghazali mengingatkan seorang guru jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang bertentangan dengan prinsip yang dikemukakannya. Sebab jika hal itu terjadi akan menyebabkan seorang guru kehilangan wibawanya.
Dari beberapa kreteria atau sifat guru diatas, Ahmad Tafsir menambahkan sebagaimana mengutip pendapatnya al-Abrasyi  bahwa guru atau pendidik dalam islam harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Zuhud; tidak mengutamakan materi, mengajar dilakukan karena semata-mata mencari ridha Allah.
2. Bersih tubuhnya; Jadi, penampilan lahiriyahnya harus prima dan menyenangkan.
3. Bersih jiwanya; tidak mempunyai dosa besar
4. Tidak riya’, karna sifat tersebut dapat menghilangkan keikhlasan
5. Tidak memendam rasa dengki dan iri hati
6. Tidak menyenangi permusuhan
7. Ikhlas dalam melaksanakan tugas
8. Sesuai antara perbuatan dan perkataan
9. Tidak malu mengakui ketidaktahuan
10. Bijaksana
11. Tegas dalam perkataan dan perbuatan, tetapi tidak kasar
12. Rendah hati dan tidak sombong
13. Lemah lembut
14. Pemaaf
15. Sabar, tidak marah karna hal-hal kecil
16. Berkepribadian
17. Tidak merasa rendah hati
18. Bersifat kebapakan(mampu mencintai murid seperti mencintai anak sendiri)
19. Mengetahui krakter murid, meliputi pembawaan, kebiasaan, perasaan, dan pemikiran.
Kemudian Ahmad Tafsir melengkapi sifat-sifat guru dengan mengutip pendapatnya Ibnu Sina dalam bukunya Mahmud Junus, bahwa selain sifat-sifat diatas seorang pendidik dalam melaksanakan pembelajaran harus; Tenang, tidak bermuka masam, tidak berolok-olok dihadapan anak didik dan sopan santun . Dari beberapa kreteria atau sifat guru tesebut diatas sebagian masih ada yang sejalan dengan tuntutan masyarakat sekarang. Dimana seorang guru dalam rangka melaksanakan proses pembelajaran menggunakan cara-cara metodik dan sitematis, yaitu tidak mengajarkan bagian berikutnya sebelum bagian terdahulu dikuasai, memahami tingkat perbedaan kejiwaan dan kemampuan intelektual murid, bersikap simpatik, dan tidak menggunakan cara-cara kekerasan, serta menjadi pribadi panutan dan teladan adalah sifat-sifat yang tetapa sejalan dengan tuntutan masyarakat modern.

5. Sifat Murid

Pelajar atau murid menurut al-Ghazali sebagaimana penjelasannya dalam kitab ihya’ ulumuddin harus selaras dengan tujuan awalnya yaitu upaya mendekatkan diri kepada Allah, karna belajar termasuk ibadah.  Dengan dasar pemikiran ini maka seorang murid yang baik adalah murid yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut;
1. Murid harus berjiwa bersih, terhindar dari sifat-sifat yang hina dan sifat-sifat tercella lainnya, sebagimana sabda Rasullah Saw.

بنى الإسلام على النضافة
Artinya:  Agama itu  didirikan di atas kebersihan.
Dengan demikian mendahulukan kebersihan jiwa dari akhlak tercela merupakan factor yang paling mendasar bagi seorang murid.
2. Murid harus menjauhkan diri dari kesenangan-kesenangan dunia, karna keterikatan pada persoalan dunia justru akan mengurangi serta dapat mengganggu lancarnya usaha dalam pencarian ilmu. Sebagimana pendatnya, “ ilmu itu tidak akan memberikan sebagiannya hingga engkau memberinya seluruh milikmu”.
3. Murid harus merendahkan diri atau tawadhu’ kepada guru. Sifat ini oleh al-ghazali sangat ditekankan pada murid agar supaya tidak merasa lebih besar dari pada gurunya, atau merasa ilmunya lebih hebat dari pada gurunya. Lebih lanjut al-Ghazali menegaskan bahwa murid yang baik adalah murid yang menyerahkan segala persoalannya kepada guru dan mendengarkan nasehatnya, sebagaimana pasien mendengarkan nasehat dari dokternya.
4. Murid hendaknya menjahui ilmu-ilmu yang mempelajari tentang perselisihan-perselisihan diantara sesama manusia. Seoarang murid yang baru hendaknya tidak mempelajari aliran-aliran yang berbeda-beda atau terlibat dalam berbagai perdebatan yang membingungkan. Hal ini perlu diingat, karna murid yang bersangkutan belum siap memahami berbagai pendapat yang berbeda-beda, sehingga tidak terjadi kekacauan. Seharusnya menurut al-Ghazali sebagaimana pendapatnya Abuddin Nata dalam bukunya; bahwa pada tahap-tahap awal seorang murid menguasai dan menekuni aliran yang benar yang disetujui gurunya. Setelah itu, mungkin ia dapat menyertai perdebatan diskusi atau mempelajari aliran-aliran yang bertentangan.
5. Murid harus mendahulukan mempelajari ilmu-ilmu yang wajib, seperti mempelajari al-Qur’an. Karna al-Qur’an adalah sumber utama ajaran islam yang berisi tentang pelaksanaan ibadah kepada Allah SWT.
6. Murid hendaknya dalam mempelajari ilmu harus secara bertahap. Seorang murid menurut al-Ghazali dinasehatkan agar tidak mendalami ilmu secara sekaligus, tetapi memulai dari ilmu-ilmu agama dan menguasainya dengan sempurna. Setelah itu barulah iua melangkah pada ilmu-ilmu lainnya, sesuai dengan tingkat kepentingannya.
7. Murid hendaknya tidak mempelajari satu disiplin ilmu sebelum menguasai ilmu sebelumnya. Sebab ilmu-ilmu tersusun dalam urutan tertentu secara alami, dimana sebagiannya merupakan jalan menuju kepada sebagian yang lain. Seorang murid hendaknya juga mengenal nilai setiap ilmu yang dipelajarinya. Kelebihan dari masing-masing ilmu serta hasil-hasilnya yang mungkin dicapai hendaknya dipelajarinya dengan baik. Dalam hal ini al-Ghazali mengatakan bahwa nilai ilmu itu tergantung pada dua hal, yaitu hasil dan argumentasinya. Ilmu agama misalnya berbeda nilainya dengan ilmu kedokteran. Hasil ilmu agama adalah kehidupan yang abadi, seangkan hasil ilmu kedokteran adalah kehidupan sementara. Oleh karna itu ilmu agama kedudukannya lebih mulia dari pada ilmu kedokteran. Berdasarkan nilai dan manfaatnya bagi setiap pribadi, maka ilmu agama menjadi fardhu ain, dan wajib untuk dipelajari oleh setiap individu. Sedangkan ilmu kedokteran dan sejenisnya termasuk fardhu kifayah untuk mempelajarinya, karna ilmu pengetahuan ini tidak diwajibkan kepada setiap mus;lim, tetapi harus ada diantara orang musli yang mempelajarinya. Jika sampai tidak seorang pun diantara kaum muslimin dalam kelompoknya mempelajari ilmu dimaksud, maka akan berdosa.

Hampir tidak jauh berbeda dengan konsep pemikiran pendidikan al-Ghazali sebagaimana pendapatnya abudin Nata dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam bahwa konsep al-Ghazali antara lain; Pertama Peranan Pendidikan, Kedua tujuan pendidikan, ketiga guru atau pendidik, keempat murid atau peserta didik, kelima kurikulum.


C. PENUTUP

Dari uarain singkat diatas dapat disimpulkan bahwa al-Ghazali adalah seorang ulama besar yang menaruh perhatian yang cukup tinggi terhadap pendidikan. Dari konsep pendidikan yang diatawarkan al-Ghazali, cukup praktis sekali namun demikian konsep tersebut sangat bermakna sekali kalau dikaji secara filosofis. Selain memang corak pemikirannya yang sufistik ia pun juga menaruh perhatian yuang serius terhadap pendidikan, utamanya adalah pendidikan agama dan moral.
 Konsep pendidikan yang ia tawarkan sebagaimana tujuan pokoknya adalah Pertama, tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada  pendekatan diri kepada Allah. Kedua kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Guna mencapai tujuan yang diharapkan maka harus menggunakan sarana dan prasarana berupa ilmu pengetahuan. Hal ini al-Ghazali membaginya dalam tiga bagian; pertama Pertama, ilmu-ilmu yang terkutuk baik sedikit maupun banyak, yaitu ilmu-ilmu yang tidak ada manfaatnya, Kedua, ilmu-ilmu yang terpuji baik sedikit maupun banyak, yaitu ilmu yang erat kaitannya dengan peribadatan dan macam-macamnya. Ketiga ilmu-ilmu yang terpuji dalam kadar tertentu, atau sedikit, dan tercela .
Setelah ilmu dimiliki tentu saja untuk menerapkannya butuh metodologi, sehingga dapat mengantarkan seseorang untuk mencapai tujuanya. Metode yang ditawarkan al-Ghazali dalam hal yang berhubungan dengan metode pendidikan , perhatian al-Ghazali menekankan pada pentingnya  pendidikan agama dan moral dengan tipe bimbingan dan pembiasaan. Dalam metode tersebut al-Ghazali menekankan agar tujuan utama  dari penggunaan metode diselaraskan dengan tingkat usia, tingkat kecerdasan, bakat dan pembawaan anak dan tujuannya tidak dilepaskan dari hubungannya dengan nilai dan manfaat.
Yang terakhir kreteria atau sifat-sifat guru dan murid juga menjadi perhatian serius dari al-Ghazali, karna keduanya saling  berinteraksi dalam proses pembelajaran  maka masing-masing harus menunjukkan sikap sesuai dengan kapasitasnya. Guru sebagai pendidik dan murid sebagai terdidik.







































DAFTAR PUSTAKA

B.R. Hergenhanhn dan Matthew H. Olson, Theories Of Learning, edisi ke 7, cet,3 (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,2010),
Faz-ul-Karim, Revival of Relegious Learnings Imam Ghazali’s, Ihya’ Ulum-id-Iddin, (Pakistan: Darul Ishaat, Urdu Bazar, Karachi, Juz I, 1993)
Abu Hamid Ahmad  al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin,Juz I, (Surabaya: Al-Hidayah, tt),
Sibawaihi, Eskatologi al-Ghazali dan Fazlur Rahman; Study Komparatif Epistemologi Klasik-Kontemporer,(Yogyakarta: Penerbit Islamika, 2004),
Iman al-Ghazali, “Mukhtashor Ihya’ ulumuddin”(Jakarta: Pustaka amani, 1995)
H.M. Fadhil Sa’id An-Nadwi, Tuntunan Mencapai Hidayah Allah, PT; Al-Hidayah, Surabaya
A.M. Saepfudin,”Konsep Pendidikan Agama: Sebuah Pendekatan Interatif Inovatif”,dalam  kumpulan makalah memperingati 70 tahun Prof. Dr. H.M. Rasyidi,(Jakarta:Harian Umum Pelita,1985)
Departemen Agama RI, Tim Pengembangan Kurikulum Kemitraan Australia-Indonesia, Panduan Tehnis Pengembangan Kurikulum Madrasah Tsanawiyah, (Jakarta: Tim Pengembangan Kurikulum Kemitraan Australia-Indonesia, 2009),
Ikhsan, Hamdani. Dan Ikhsan Fuad,  Filsafat Perndidikan Islam.CV. Pustaka Setia, Bandung. 1998
Zainudin, Seluk beluk Pendidikan Al-Ghozali. Bumi Aksara, Jakarta 1991
Abuddin Nata, Pemikiran para tokoh pendidikan islam; seri kajian filsafat pendidikan islam, (PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2003)
____________, Filsafat Pendidikan Islam,(Jakarta: Logos Wacana Ilmu, cet.1, 1997)
Jalaluddin & Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam; Konsep dan Perkembangan Pemikirannya, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1996),
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Persepektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008)
Moh. Padil Trio Supriyatno, Sosiologi Pendidikan, (Malang: UIN Press,2007)
A.M. Saepfudin,”Konsep Pendidikan Agama: Sebuah Pendekatan Interatif Inovatif”,dalam  kumpulan makalah memperingati 70 tahun Prof. Dr. H.M. Rasyidi,(Jakarta:Harian Umum Pelita,1985),
Harun Nasution, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran,(Bandung: Mizan,1998)
H.Sutijono, Pengembangan Profesionalisme Guru, Modul Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru, (Surabaya:Departemen Pendidikan Nasional RI Universitas PGRI Adi Buana, 2009).
Susdiana Herawati,, “Pembelajaran Berbasis Siswa; Menggagas Metode Pembelajaran Berdasar Tipologi Belajar Siswa” dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, (Sumenep; EDUKASI No.XI.2008)
Fahur Rahman dan Syamsuddin Asyrafi,(a-b) Sistem Pendidikan versi Al-Ghazali/ Fatiyah Hasan Sulaiman, (Bandung: Al-Ma’arif, 1986) cet. 1




Tidak ada komentar :

Poskan Komentar