wisuda program pasca 2012

wisuda program pasca 2012
foto bersama

Minggu, 05 Mei 2013

PEMBELAJARAN BERBASIS LINGKUNGAN;


PEMBELAJARAN BERBASIS LINGKUNGAN;

(Sebuah Telaah Kritis Terhadap Teori Belajar Vygotsky)

Oleh : A s i s, S.H.I, M.Pd.I
(Mahasiswa Pasca Sajana Sunan Ampel Surabaya angkatan 2010 dan saat ini menjadi guru tetap di LPI Yayasan An-Najah I Karduluk, Pragaan, Sumenep, HP: 0819383076734, e-mail; fely.ajiz@gmail.com)

Abstraks

Teori belajar yang dianggap lebih mampu mengakomodasi tuntutan sociocultural-revolution atau gaya belajar berbasis lingkungan adalah teori belajar yang dikembangkan oleh Vygotsky. Konsep teori Vygotsky berkutat pada tiga hal: Pertama Hukum Genetik tentang Perkembangan (Genetic Law of Development). Setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang melewati dua aturan, yaitu tataran sosial lingkungannya dan tataran psikologis yang ada pada dirinya. Kedua Zona Perkembangan Proksimal (Zone of Proximal Development), perkembangan kemampuan seseorang dapat dibedakan ke dalam dua tingkat, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan berbagai masalah secara mandiri. Ini disebut sebagai kemampuan intramental. Sedangkan tingkat perkembangan potensial adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan masalah ketika di bawah bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Ini disebut sebagai kemampuan intermental. Jarak antara keduanya, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial ini disebut zona perkembangan proksimal. Ketiga Mediasi, yakni Mediator yang diperankan lewat tanda maupun lambang adalah kunci utama memahami proses-proses sosial dan psikologis. Ada dua jenis mediasi, yaitu metakognitif dan mediasi kognitif. Media metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotic yang bertujuan untuk melakukan self regulation (pengaturan diri) yang mencakup self planning, self monitoring, self checking, dan self evaluation. Sedangkan media kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan pengetahuan tertentu.

Kata Kunci : Lev Vygotsky, Teori belajar, sosio-cultural, Hukum Genetik, Zona Proksimal, Mediasi.


A.    Pendahuluan

Mencermati  perubahan kehidupan masyarakat dewasa ini dengan maraknya berbagai problem sosial seperti ancaman disintegrasi yang disebabkan oleh fanatisme dan primordialisme, dan di lain pihak adanya tuntutan pluralisme dan juga ada upaya membentuk NII yang akhir-akhir ini menjadi isu Nasional sehingga harus ada pencucian otak dan lain sebagainya. Perubahan struktur dan lunturnya nilai-nilai kekeluargaan, serta merebaknya kejahatan yang disebabkan oleh lemahnya modal sosial mendorong mereka yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk mengkaji ulang paradigma pendidikan dan pembelajaran yang menjadi acuan selama ini. Tentu saja pendidikan bukan satu-satunya lembaga yang harus bertanggung jawab untuk mengatasi semua masalah tersebut. Namun pendidikan mempunyai kontribusi besar dalam upaya mengatasi berbagai persoalan sosial.
Aliran behavioristik yang banyak digunakan dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran selama ini kurang dapat menjawab masalah-masalah sosial. Pendekatan ini banyak dianut dalam praktek-praktek pendidikan dan pembelajaran mulai dari pendidikan tingkat yang paling rendah hingga pendidikan tinggi, namun ternyata tidak mampu menjawab masalah-masalah dan tuntutan kehidupan global. Hasil pendidikan tidak mampu menumbuhkembangkan anak-anak untuk lebih menghargai perbedaan dalam konteks sosial budaya yang beragam. Mereka kurang mampu berpikir kreatif, kritis dan produktif, tidak mampu mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan berkolaborasi, serta pengelolaan diri(Sri Hayati, 2007)
Pendekatan kognitif dalam belajar dan pembelajaran yang ditokohi oleh Piaget yang kemudian berkembang ke dalam aliran konstruktivistik juga masih dirasakan kelemahannya. Teori ini bila dicermati ada beberapa aspek yang dipandang dapat menimbulkan implikasi kotraproduktif dalam kegiatan pembelajaran, karena lebih mencerminkan ideologi individualisme dan gaya belajar sokratik yang lazim dikaitkan dengan budaya Barat (B.R. Hergenhanhn dan Matthew H. Olson,2008). Pendekatan ini kurang sesuai dengan tuntutan revolusi-sosiokultural yang berkembang akhir-akhir ini.
Teori belajar yang dianggap lebih mampu mengakomodasi tuntutan sociocultural-revolution atau gaya belajar berbasis lingkungan adalah teori belajar yang dikembangkan oleh Vygotsky. Dikemukakan bahwa peningkatan fungsi-fungsi mental seseorang terutama berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya, dan bukan sekedar dari individu itu sendiri(Sumiati & Asra, 2007). Teori Vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut sebagai pendekatan ko-konstruktivisme.
Teori-teori utama Vygotsky  yaitu genetic low of development, zona of proximal development, dan mediasi, mampu membuktikan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan sejarahnya. Perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang seturut dengan teori sociogenesis . Dimensi kesadaran sosial bersifat primer sedangkan dimensi individual bersifat sekunder. 

B.     Teori Utama Vygotsky
1.    Biografi Singkat Vygotsky

Nama lengkapnya adalah Lev Semyonovich Vygotsky. Ia dilahirkan di salah satu kota Tsarist, Russia, tepatnya pada pada 17 November 1896, dan berkuturunan Yahudi. Ia tertarik pada psikologi saat berusia 28 tahun. Sebelumnya, ia lebih menyukai dunia sastra. Awalnya, ia menjadi guru sastra di sebuah sekolah, namum pihak sekolah juga memintanya untuk mengajarkan psikologi. Padahal, ia sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan formal di fakultas psikologi sebelumnya. Namun, inilah skenario yang membuatnya menjadi tertarik untuk menekuni psikologi, hingga akhirnya ia melanjutkan kuliah di program studi psikologi Moscow Institute of Psychology pada tahun 1925. Judul disertasinya mengenai ”Psychology of Art”. Lev Vygotsky adalah seorang psikolog yang berasal dari Rusia dan hidup pada masa revolusi Rusia. Vygotsky dalam menelurkan pemikiran-pemikirannya di dunia psikologi kerap menghadapi rintangan oleh pemerintah Rusia saat itu. Perkembangan pemikirannya meluas setelah ia wafat pada tahun 1934, dikarenakan menderita penyakit TBC. Vygotsky pun sering dihubungkan dengan psikolog Swiss bernama Piaget. Lahir pada masa yang sama dengan Piaget, seorang psikolog yang juga mempunyai keyakinan bahwa keaktifan anak yang membangun pengetahuan mereka. Vygotsky meninggal dalam usia yang cukup muda, yaitu ketika masih berusia tigapuluh tujuh tahun.




2.    Teori Belajar Vygotsky

Teori belajar dan pembelajaran yang anggap mampu mengakomodasi tuntutan sociocultural-revolution ini adalah pandangan yang  dikemukakan oleh Lev Vygotsky. Ia mengatakan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan sejarahnya. Artinya, untuk memahami pikiran seseorang bukan dengan cara menelusuri apa yang ada di balik otaknya dan pada kedalaman jiwanya, melainkan dari asal-usul tindakan sadarnya, dari interaksi sosial yang dilatari oleh sejarah hidupnya (Moll & Greenberg, 1990). Pandangan ini sangat bertolak belakang dengan teori belajar Natifisme yang dipelopori oleh Schopenhover, dimana teori ini sama sekali menafikan pengaruh interaksi individu  dengan lingkungan. Karna menurutnya manusia akan berkembang seperti apa sangat tergantung dari pembawaannya. Jika pembawaan pandai akan menjadi manusia yang pintar dan jika pembawaannya bodoh , maka akan menjadi bodoh. Perkembangan manusia bukan dipengaruhi   oleh orang lain, lingkungan, budaya, dan termasuk juga pendidikan. Perkembangan manusia telah ada bersama pembawaan sejak lahir(Moh. Padil & Trio Supriyanto, 2007).
Vygotsky lebih lanjut menjelaskan teorinya bahwa peningkatan fungsi-fungsi mental seseorang berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya, dan bukan dari individu itu sendiri. Interaksi sosial demikian antara lain berkaitan erat dengan aktivitas-aktivitas dan bahasa yang dipergunakan. Kunci utama untuk memahami proses-proses sosial-lingkungan  dan psikologis manusia adalah tanda-tanda atau lambang yang berfungsi sebagai mediator (Wertsch, 1990). Tanda-tanda atau lambang tersebut merupakan produk dari lingkungan sosio-kultural  di mana seseorang berada.
Mekanisme teori yang digunakannya untuk menspesifikasikan hubungan antara pendekatan sosio-kultural  dan pemfungsian mental didasarkan pada tema mediasi semiotik, yang artinya adalah tanda-tanda atau lambang-lambang beserta makna yang terkandung di dalamnya berfungsi sebagai penengah antara rasionalitas dalam pendekatan sosio-kultural dan manusia sebagai tempat berlangsungnya proses mental (Moll, 1994).
Atas dasar pemikiran Vygotsky, Moll dan Greenberg (dalam Moll, 1994) melakukan studi etnografi dan menemukan adanya jaringan-jaringan erat, luas, dan kompleks di dalam dan di antara keluarga-keluarga. Jaringan-jaringan tersebut berkembang atas dasar confianza yang membentuk kondisi sosial sebagai tempat penyebaran dan pertukaran pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai sosial budaya. Anak-anak memperoleh berbagai pengetahuan dan ketrampilan melalui interaksi sosial sehari-hari dengan lingkungan yang mengitarinya. Mereka terlibat secara aktif dalam interaksi sosial dalam keluarga untuk memperoleh dan juga menyebarkan pengetahuan-pengetahuan yang telah dimiliki. Ada suatu kerja sama di antara anggota keluarga dalam interaksi tersebut.
Menurut Vygotsky, perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang seturut dengan teori sociogenesis. Dimensi kesadaran sosial bersifat primer, sedangkan dimensi individualnya bersifat derivatif atau merupakan turunan dan besifat skunder (Palincsar, Wertsch & Tulviste, dalam Supratiknya, 2002). Artinya, pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber-sumber sosial di luar dirinya. Hal ini tidak berarti bahwa individu bersikap pasif dalam perkembangan kognitifnya, tetapi Vygotsky juga menekankan pentingnya peran aktif seseorang dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Maka teori Vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut dengan pendekatan ko-konstruktivisme. Maksudnya, perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga oleh lingkungan sosial yang aktif pula.
Adapun teori-teori utama Vygotsky yang seturut dengan  konsep-konsep penting teori sosiogenesis tentang perkembangan kognitif  revolusi-sosiokultural dalam teori belajar dan pembelajaran ada tiga yaitu; Pertama  Hukum genetik tentang perkembangan (genetic law of development), Kedua Zona Perkembangan Proksimal (zone of proximal development), dan  Ketiga Mediasi.

a.    Hukum genetik tentang perkembangan (genetic law of development)
 Menurut Vygotsky, setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang melewati dua tataran, yaitu;
1.         Tataran sosial tempat orang-orang membentuk lingkungan sosialnya (dapat dikategorikan sebagai interpsikologis atau intermental), dan
2.         Tataran psikologis di dalam diri orang yang bersangkutan (dapat dikategorikan sebagai intrapsikologis atau intramental).
Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai faktor primer dan  konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif seseorang. Dikatakannya bahwa fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi dalam diri seseorang akan muncul dan berasal dari kehidupan sosialnya. Sementara itu fungsi intramental dipandang sebagai derivasi atau keturunan yang tumbuh atau terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi terhadap proses-proses sosial tersebut.
Pada mulanya anak berpartisipasi dalam kegiatan sosial tertentu tanpa memahami maknanya. Pemaknaan atau konstruksi pengetahuan baru muncul atau terjadi melalui proses internalisasi. Namun internalisasi yang dimaksud oleh Vygotsky bersifat transformatif, yaitu mampu memunculkan perubahan dan perkembangan yang tidak sekedar berupa transfer atau pengalihan. Maka belajar dan berkembang merupakan satu kesatuan dan saling menentukan.

b.    Zona perkembangan proksimal (zone of proximal development)
Vygotsky juga mengemukakan konsepnya tentang Zona perkembangan proksimal (zone of proximal development). Menurutnya, perkembangan kemampuan seseorang dapat dibedakan ke dalam dua tingkat, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas atau memecahkan berbagai masalah secara mandiri. Ini disebut sebagai kemampuan intramental. Sedangkan tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas dan memecahkan masalah ketika di bawah bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Ini disebut sebagai kemampuan intermental. Jarak antara keduanya, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial ini disebut zona perkembangan proksimal.
Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada pada proses pematangan. Ibaratnya sebagai embrio, kuncup atau bunga, yang belum menjadi buah. Tunas-tunas perkembangan ini akan menjadi matang melalui interaksinya dengan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Untuk menafsirkan konsep zona perkembangan proksimal ini dengan menggunakan scaffolding interpretation, yaitu memandang zona perkembangan proksimal sebagai perancah, sejenis wilayah penyangga atau batu loncatan untuk mencapai taraf perkembangan yang semakin tinggi.
Gagasan Vygotsky tentang zona perkembangan proksimal ini mendasari perkembangan teori belajar dan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan mengoptimalkan perkembangan kognitif anak. Beberapa konsep kunci yang perlu dicatat adalah bahwa perkembangan dan belajar bersifat interdependen atau saling terkait, perkembangan kemampuan seseorang bersifat context dependent atau tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, dan sebagai bentuk fundamental dalam belajar adalah partisipasi dalam kegiatan sosial.
Berpijak pada konsep zona perkembangan proksimal, maka sebelum terjadi internalisasi dalam diri anak, atau sebelum kemampuan intramental terbentuk, anak perlu dibantu dalam proses belajarnya. Orang dewasa dan/atau teman sebaya yang lebih kompeten perlu membantu dengan berbagai cara seperti memberikan contoh, memberikan feedback, menarik kesimpulan, dan sebagainya dalam rangka perkembangan kemampuannya.

c.     Mediasi
Menurut Vygotsky, kunci utama untuk memahami proses-proses sosial dan psikologis adalah tanda-tanda atau lambang-lambang yang berfungsi sebagai mediator. Tanda-tanda atau lambang-lambang tersebut merupakan produk  dari lingkungan sosio-kultural di mana seseorang berada. Semua perbuatan atau proses psikologis yang khas manusiawi dimediasikan dengan psychological tools atau alat-alat psikologis berupa bahasa, tanda dan lambang, atau semiotika.
Dalam kegiatan pembelajaran, anak dibimbing oleh orang dewasa atau oleh teman sebaya yang lebih kompeten untuk memahami alat-alat semiotik ini. Anak mengalami proses internalisasi yang selanjutnya alat-alat ini berfungsi sebagai mediator bagi proses-proses psikologis lebih lanjut dalam diri anak.   Mekanisme hubungan antara pendekatan sosio-kultural dan fungsi-fungsi mental didasari oleh tema mediasi semiotik, artinya tanda-tanda atau lambang-lambang beserta makna yang terkandung di dalamnya berfungsi sebagai penghubung antara rasionalitas sosio-kultural (intermental) dengan individu sebagai tempat berlangsungnya proses mental (intramental) (Wertsch, 1990). Ada beberapa elemen yang dikemukakan oleh Bakhtin untuk memperluas pendapat Vygotsky. Elemen-elemen tersebut terdiri dari ucapan, bunyi suara, tipe percakapan sosial dan dialog, di mana secara kontekstual elemen-elemen tersebut berada dalam batasan sejarah, kelembagaan, budaya dan faktor-faktor individu.
Ada dua jenis mediasi, yaitu mediasi metakognitif dan mediasi kognitif (Supratiknya, 2002). Mediasi metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotik yang bertujuan untuk melakukan self-regulation(pengaturan diri) yang mencakup self-planning, self-monitoring, self-checking, dan self-evaluating. Mediasi metakognitif ini berkembang dalam komunikasi antar pribadi. Selama menjalani kegiatan bersama, orang dewasa atau teman sebaya yang lebih kompeten biasa menggunakan alat-alat semiotik tertentu untuk membantu mengatur tingkah laku anak. Selanjutnya anak akan menginternalisasikan alat-alat semiotik ini untuk dijadikan sarana regulasi diri.
     Mediasi kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengetahuan tertentu atau subject-domain problem. Mediasi kognitif bisa berkaitan dengan konsep spontan (yang bisa salah) dan konsep ilmiah (yang lebih terjamin kebenarannya). Konsep-konsep ilmiah yang berhasil diinternalisasikan anak akan berfungsi sebagai mediator dalam pemecahan masalah. Konsep-konsep ilmiah dapat berbentuk pengetahuan deklaratif (declarative knowledge) yang kurang memadai untuk memecahkan berbagai persoalan, dan pengetahuan prosedural (procedural knowledge) berupa metode atau strategi untuk memecahkan masalah. Menurut Vygotsky, untuk membantu anak mengembangkan pengetahuan yang sungguh-sungguh bermakna, dengan cara memadukan antara konsep-konsep dan prosedur melalui demonstrasi dan praktek.
     Berdasarkan pada teori Vygotsky di atas, maka akan diperoleh keuntungan jika:
a.    Anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proksimalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang.
b.     Pembelajaran perlu lebih dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya dari pada tingkat perkembangan aktualnya.
c.    Pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan intermentalnya dari pada kemampuan intramentalnya.
d.   Anak diberi kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang telah dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural yang dapat digunakan untuk melakukan tugas-tugas dan memecahkan masalah.
e.    Proses belajar dan pembelajaran tidak sekedar bersifat transferal tetapi lebih merupakan ko-konstruksi, yaitu suatu proses mengkonstruksi pengetahuan atau makna baru secara bersama-sama antara semua pihak yang terlibat di dalamnya(Asri Budiningsih, 2004).


3.    Implikasi Teori Belajar Vygotsky Dalam Pembelajaran

Gagasan Vygotsky mengenai reconstruction of knowledge in social setting bila diterapkan dalam konteks pembelajaran, guru perlu memperhatikan hal-hal berikut. Pada setiap perencanaan dan implementasi pembelajaran perhatian guru harus dipusatkan kepada kelompok anak yang tidak dapat memecahkan masalah belajar sendiri, yaitu mereka yang hanya dapat solve problems with help.  Guru perlu menyediakan berbagai jenis dan tingkatan bantuan (helps) yang dapat memfasilitasi anak agar mereka dapat memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Dalam kosa kata Psikologi Kognitif, bantuan-bantuan ini dikenal sebagai cognitive scaffolding. Bantuan-bantuan tersebut dapat dalam bentuk pemberian contoh-contoh, petunjuk atau pedoman mengerjakan, bagan/alur, langkah-langkah atau prosedur melakukan tugas, pemberian balikan, dan sebagainya.
Bimbingan atau bantuan dari orang dewasa atau teman yang lebih kompeten sangat efektif untuk meningkatkan produktifitas belajar. Bantuan-bantuan tersebut tentunya harus sesuai dengan konteks sosio-kultural atau karakteristik anak. Bimbingan oleh orang dewasa atau oleh teman sebaya yang lebih kompeten bermanfaat untuk memahami alat-alat semiotik, seperti bahasa, tanda, dan lambang-lambang. Anak mengalami proses internalisasi yang selanjutnya alat-alat ini berfungsi sebagai mediator bagi proses-proses psikologis lebih lanjut dalam diri anak. Maka bentuk-bentuk pembelajaran kooperatif-kolaboratif, serta pembelajaran kontekstual sangat tepat diterapkan.
Kelompok anak yang cannot solve problem meskipun telah diberikan berbagai bantuan, perlu diturunkan ke kelompok yang lebih rendah kesiapan belajarnya sehingga setelah diturunkan, mereka juga berada pada zone of proximal development nya sendiri dan, oleh karena itu, siap memanfaatkan bantuan atau scaffolding yang disediakan. Sedangkan kelompok yang telah mampu solve problems independently  harus ditingkatkan tuntutannya, sehingga tidak perlu buang-buang waktu dengan tagihan belajar yang sama bagi kelompok anak yang ada dibawahnya.
Dengan pengkonsepsian kesiapan belajar demikian, maka pemahaman tentang karakteristik siswa yang berhubungan dengan sosio-kultural dan kemampuan awalnya sebagai pijakan dalam pembelajaran perlu lebih dicermati artikulasinya, sehingga dapat dihasilkan perangkat lunak pembelajaran yang benar-benar menantang namun tetap produktif dan kreatif.

4.    Analisa Kritis Terhadap Teori Vigotsky

Setiap teori sudah  pasti ada kekurangan dan kelebihannya, maka dari itu seorang guru harus tepat memilih dan mengatur strategi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Diharapkan dalam upaya menerapkan teori-teori tersebut dalam praktek-praktek pembelajaran, guru dapat dengan bijaksana memadukan (eklektik) atau memilih teori yang paling sesuai dengan tujuan dan materi belajar, karakteristik peserta belajar yang dihadapi, serta konteks di mana kegiatan belajar berlangsung.
Teori belajar berbasis lingkungan Lev Vygotsky yang anggap mampu mengakomodasi sociocultural-revolution menurut hemat penulis masih kurang lengkap. Sebab teori ini berpandangan bahwa perkembangan manusia hanya berfokus pada faktor sosio-kultural saja, dan tidak mempertimbangkan perkembangan biologis anak terutama perkembangan kematangan fisik anak di masa-masa pertumbuhan. Vygotsky hanya menganggap faktor biologis sebagai ”bahan baku/bahan dasar” dan tidak menjelaskan pengaruh perubahan biologis pada kehidupan sosiokultural individu.
Alangkah lebih lengkapnya teori ini menurut hemat penulis mana kala memadukan dua faktor yakni faktor kematangan fisik yang merupakan pembawaan dari dalam dirinya dan faktor yang terkontruksi dari lingkungannya. Penulis sepakat dengan Supratiknya, sebagaimana mengutip pandangan Palincsar, Wertsch & Tulviste, Artinya, bahwa sekalipun pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber-sumber sosial di luar dirinya,  hal ini tidak berarti bahwa individu bersikap pasif dalam perkembangan kognitifnya, tetapi juga menekankan pentingnya peran aktif seseorang dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Maka teori Vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut dengan pendekatan ko-konstruktivisme. Maksudnya, perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga oleh lingkungan sosial yang aktif pula.
Dengan kata lain bahwa kematangan sesorang tidak hanya ditentukan oleh lingkungan dimana ia berada, tetapi juga dari faktor kematangan diri berdasarkan pembawaan sejak lahir.

C.    Kesimpulan

Pembelajaran berbasis pada lingkungan merupakan hal yang strategis yang seyogyanya harus dilaksanakan terutama pada jenjang pendidikan dasar. Karna pada jenjang inilah struktur kognitif anak dapat terujud melalui adanya informasi, transpormasi, dan penggunaan. Interaksi antara individu dan lingkungan akan terus berlangsung sejalan dengan adanya pemahaman dan persepsi baru mengenai lingkungan tersebut.
Dari tulisan singkat ini dapat disimpulkan bahwa konsep teori belajar berbasis lingkungan yang digagas oleh Vygotsky termasuk salah satu pembelajaran alternatif yang harus di terapkan dalam dunia pendidikan dimasa-masa sekarang. Mengingat pembelajaran yang terlalu berorientasi kepada penguasaan materi pelajaran, nampaknya kurang mampu mengangkat kwalitas pendidikan kita, baik dari segi hasil maupun proses belajar. Ada tiga teori utama yang ditawarkan Vygotsky barangkali bisa dijadikan pijakan dalam pembelajaran yakni; Hukum genetik tentang perkembangan (genetic law of development), Zona Perkembangan Proksimal (zone of proximal development), dan  Mediasi.
Berdasarkan teori Vygotsky maka dalam kegiatan pembelajaran hendaknya anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proximalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang. Guru perlu menyediakan berbagai jenis dan tingkatan bantuan (helps / cognitive scaffolding) yang dapat memfasilitasi anak agar mereka dapat memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Bantuan dapat dalam bentuk contoh, pedoman, bimbingan orang lain atau teman yang lebih kompeten. Bentuk-bentuk pembelajaran kooperatif-kolaboratif serta belajar kontekstual sangat tepat digunakan. Sedangkan anak yang telah mampu belajar sendiri perlu ditingkatkan tuntutannya, sehingga tidak perlu menunggu anak yang berada dibawahnya. Dengan demikian diperlukan pemahaman yang tepat tentang karakteristik siswa dan budayanya sebagai pijakan dalam pembelajaran.











D.    Daftar Pustaka
Asri Budiningsih C, Silabi Mata Kuliah, Belajar dan Pembelajaran (Jurusan Kurikulum dan teknologi pendidikan FIP UNY, 2010)
Asri Budiningsih C. Belajar dan Pembelajaran. (Jakarta: PT Rineka Cipta,2004)
B.R. Hergenhanhn dan Matthew H. Olson, Theories Of Learning, edisi ke 7, cet,3 (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,2008)
Berybe, H. Dilema pelembagaan pendidikan Dalam Sindhunata, ed. Pendidikan   kegelisahan sepanjang zaman. (Yogyakarta: Kanisius, 2001)
Degeng, N. S.  Pandangan behavioristik vs konstruktivistik: Pemecahan masalah belajar abad XXI. (Malang: Makalah seminar TEP,2001)
Greenberg, J.B. Creating zones of possibilities: Combining social contexts for instruction. Dalam Moll, L. C., ed. Vygotsky and education: Instructional implications and applications of sociohistorycal psychology. (Cambrige: University Press,1994)
Moh. Padil & Trio Supriyanto, Sosiologi Pendidikan,(UIN-Malang Press, 2007)
Mohammad Asrori, Psikologi Pendidikan, Seri Pembelajaran Efektif, (Bandung: CV. Wicaksana,2007)
Moll, L. C., ed. Vygotsky and education: Instructional implications and applications of sociohistorycal psychology. (Cambrige: University Press, 1994)
Sri Hayati, Pendidikan Lingkungan Hidup dalam Handbook Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, bagian III, Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan, FIP-UPI,(Imtima, 2007)
Sumiati & Asra, Metode Pembelajaran, (Bandung: CV. Wacana Prima, 2007)
Sumiati & Asra, Metode Pembelajaran, Seri Pembelajaran Efektif, (Bandung: CV. Wicaksana,2007)
Supratiknya, A., Service learning, belajar dari konteks kehidupan masyarakat: Paradigma pembelajaran berbasis problem, mempertemukan Jean Piaget dan Lev Vygotsky. (Yogyakarta: Pidato Dies USD ke 47, 2002)
Tudge, J. Vygotsky: The zone of proximal development, and peer collaboration: Implications for classroom practice. Dalam Moll, L. C., ed. Vygotsky and education: Instructional implications and applications of sociohistorycal psychology. (Cambrige: University Press, 1994)

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar